• ZERO PLASTIC
  • header
  • a

Selamat Datang di Website SMP NEGERI 239 JAKARTA. Terima Kasih Atas Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMP NEGERI 239 JAKARTA

NPSN : 20102514

Jl.Nangka 58 Tj.Barat Jagaraksa, Jakarta Selatan 12530


[email protected]

TLP : 021-7818319


          

Prestasi Siswa


Lomba Pencak Silat

Tim pencak silat SMPN 239 bersama dengan pelatih dan guru pembimbing berfoto setelah menjuarai perlombaan pencak silat.



:: Selengkapnya

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 499791
Pengunjung : 188323
Hari ini : 108
Hits hari ini : 165
Member Online : 0
IP : 216.73.216.108
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

Mimpi Sang Dara




 

 

 

Mimpi Sang Dara

Karya: Kayla Filzah Ashari Putri

 

 

Dara, gadis yang hidup dengan sejuta mimpi di dalam sebuah rumah berdinding tinggi. Pagi menjelang saat Dara mulai menjerang air untuk membuat segelas teh panas.

 

Dara merupakan gadis yang tumbuh di dalam keluarga berkecukupan, bahkan bisa dibilang sangat kaya raya. Namun sayangnya, Dara tidak bisa menopang tubuhnya sendiri tanpa menggunakan bantuan kursi roda, sehingga kerap merasa diacuhkan bahkan saat berada di istana mewah tersebut.

 

Kedua orang tua Dara selalu mengabaikannya karena merasa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari gadis dengan kursi roda tersebut. Sementara kakaknya kemungkinan besar malu punya adik dengan kondisi seperti Dara.

 

Setiap hari, Dara hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar dan sesekali mengarahkan kursi rodanya menuju arah taman. Gadis yang kini berusia 17 tahun itu sangat senang untuk menggambar di taman guna menghilangkan pikiran buruknya yang menyesali keadaannya.

 

Suatu pagi Dara jatuh dari kursi rodanya, tapi tidak ada seorangpun di dalam rumah tersebut mendekat untuk menolongnya. Rasa kecewanya terhadap hal tersebut membuat Dara memiliki kekuatan untuk menggerakan kursi rodanya ke arah taman kompleks dengan niatan untuk menenangkan diri.

 

Saat sedang terisak di taman, tiba-tiba Dara dihampiri oleh seorang gadis yang terlihat seperti seusianya dengan kondisi yang sama. Gadis tersebut mengulurkan tangan untuk Dara dan mulai menyebutkan namanya. "Hana," katanya. Mereka berdua mudah sekali akrab, mungkin karena keduanya saling mengerti kondisi masing-masing.

 

 

 

 

Tiba-tiba Hana berkata, “Dara, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak layaknya manusia lain. Tapi, kita masih punya hak untuk merasakan bahagia. Cobalah untuk menerima dirimu sendiri, Dara."

 

Setelah berucap demikian, akhirnya gadis itu berpamitan pada Dara. Semenjak pertemuan di taman dengan Hana, Dara mulai merenungi kata-kata yang diucapkan oleh gadis tersebut. Dara mencoba mencerna perkataan dari Hana secara perlahan. Hal yang dipikirkan oleh Dara adalah bagaimana ia bisa mewujudkan mimpinya dengan kondisi tersebut.

 

Mimpi Dara adalah menjadi seorang pelukis yang karyanya bisa dipajang di pameran besar. Oleh karenanya, ia mulai rajin membuat lukisan. Kesibukan tersebut juga dilakukan Dara agar tidak memikirkan dirinya yang selalu diacuhkan dan mulai memahami perkataan Hana.

 

Perlahan, mimpi sang Dara mulai terwujud saat diam-diam ia sering mengunggah lukisannya melalui media sosial. Hingga suatu hari, ada seorang pria yang datang ke rumah Dara dan mencarinya guna mengajak Dara bergabung di sebuah pameran lukisan.

 

Keluarga Dara jelas terperangah mendengar ucapan pria tersebut, sebab tidak menyangka bahwa Dara si gadis kursi roda bisa menghasilkan karya lukisan yang indah. Dara hanya tersenyum melihat respon kedua orang tuanya dan memilih menerima tawaran pameran tersebut.

 

Hari pameran tiba. Orang tua Dara menghadiri pameran itu dan merasa terharu atas pencapaian putri yang selama ini diabaikan. Sementara itu, Dara merasa lega bisa menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkan apa yang dimiliki.

 

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas